Artikel Reportase
MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN
BUM DESA DIDORONG BERINOVASI DI ERA DISRUPSI
Perubahan tidak lagi berjalan perlahan. Perkembangan teknologi, transformasi digital, hingga dinamika ekonomi global telah mengubah cara masyarakat berproduksi, bertransaksi, dan membangun usaha. Di tengah perubahan yang begitu cepat, Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dituntut untuk tidak sekadar bertahan, tetapi mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing.
Semangat itulah yang menjadi benang merah dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal pada Jumat, 24 Juli 2026. Mengusung tema: "Penguatan Inovasi dan Kolaborasi BUM Desa di Era Disrupsi". Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, praktisi, dan sektor perbankan dalam satu ruang diskusi untuk membangun masa depan ekonomi desa yang lebih tangguh. Peserta mengikuti kegiatan melalui chanel zoom sejumlah 1000 orang dan chanel Youtube Ditjen PEID Kemendesa lebih dari 500 orang.
Membuka kegiatan, Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan Daerah Tertinggal, Dr. H. Tabrani, M.Pd., menegaskan bahwa BUM Desa memiliki posisi strategis sebagai motor penggerak perekonomian desa. Di tengah perubahan yang semakin dinamis, pengelolaan BUM Desa tidak lagi dapat mengandalkan pola-pola lama. Diperlukan keberanian untuk berinovasi, memperkuat tata kelola, memanfaatkan teknologi, serta membangun jejaring kemitraan yang mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa.
Perspektif tersebut diperdalam oleh praktisi BUMDes.id, Dr. Rudy Suryanto, S.E., M.Acc., Ph.D., Ak., CA., melalui pemaparan bertajuk "Inovasi dan Kolaborasi BUM Desa di Era Disrupsi." Menurutnya, era disrupsi bukan semata menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka ruang yang luas bagi desa untuk berkembang apabila mampu membaca perubahan. Inovasi bukan hanya tentang menciptakan produk baru, melainkan membangun cara berpikir yang adaptif, memperkuat kolaborasi antar desa, menggandeng dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, hingga memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan nilai tambah produk desa.
Sementara itu, Evi Sulistyowati, Group Head Social Entrepreneurship and Incubation BRI, memaparkan bagaimana sinergi pembiayaan dan pemberdayaan dapat menjadi fondasi penting dalam memperkuat kapasitas BUM Desa. Melalui Program Desa BRILian, BRI menghadirkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada akses permodalan, tetapi juga pendampingan, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan ekosistem kewirausahaan desa. Kolaborasi seperti ini menjadi contoh nyata bahwa pembangunan desa membutuhkan keterlibatan berbagai pihak untuk menghasilkan dampak yang berkelanjutan.
Diskusi yang berlangsung selama webinar memperlihatkan satu kesamaan pandangan: masa depan desa tidak hanya ditentukan oleh potensi sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan sumber daya manusianya dalam beradaptasi terhadap perubahan. BUM Desa yang mampu mengelola potensi lokal dengan pendekatan inovatif akan memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat kemandirian ekonomi desa.
Lebih dari sekadar forum berbagi pengetahuan, webinar ini menjadi ruang untuk memperkuat optimisme bahwa desa memiliki kapasitas besar untuk tumbuh sebagai pusat ekonomi baru. Ketika pemerintah, praktisi, lembaga keuangan, dan masyarakat bergerak dalam semangat kolaborasi, maka transformasi BUM Desa bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan sebuah keniscayaan.
Di era disrupsi, keberhasilan BUM Desa tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan yang diperoleh, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan manfaat sosial, memperluas kesempatan ekonomi bagi warga, serta menjaga keberlanjutan pembangunan desa. Dari sinilah harapan itu tumbuh: desa yang mandiri, masyarakat yang sejahtera, dan ekonomi lokal yang semakin kuat menjadi fondasi Indonesia yang maju.
ardian jo
TAPM Kabuaten Manggarai, NTT
Komentar
Posting Komentar